Senin, 27 September 2010

Shaima Al-Hammadi

Host Oman yang menyajikan TV sendiri Show di Oman Channel :

1.








































2.








































3.








































4.








































5.








































6.








































7.








































8.











Tampilan Baru Dari Rapidshare

Sekarang terdapat tampilan baru dari Rapidshare yang jauh berbeda dengan yang sebelumnya dan jauh lebih bagus, bisa anda lihat seperti gambar di bawah ini :


Sumber : http://rapidshare.com

Sungai Dalam Laut

Sungai di dalam laut. Secara ilmiah itu tidak mungkin terjadi. Seorang penyelam, Anatoly Beloshchin, mengambil gambar 'sungai di dalam laut' dari kedalaman 60 meter perairan Cenote Angelita, Mexico. 

Di kedalaman lebih dari 30 meter tim penyelam menemukan air tawar di tengah kolom air laut. Kondisi itu berubah dan penyelam kembali menemukan air laut mulai melewati kedalaman 60 meter. 

Beberapa meter dari lokasi itu akan ditemukan sebuah gua. Di bagian bawah dekat gua itu tim penyelam menemukan sebuah sungai lengkap dengan pohon dan dedaunan yang mengapung di kolom air itu. 

Ternyata lokasi itu bukanlah sungai seperti yang terlihat di daratan. Tetapi, suasana itu memang mirip sungai lengkap dengan lapisan seperti air yang berwarna agak kecoklatan. 

Tapi tunggu dulu, warna kecoklatan itu bukanlah berasal dari air tawar. Disebutkan, bagian kecoklatan yang mirip air sungai itu adalah lapisan bagian bawah gas hidrogen sulfida. Gas yang biasanya dihasilkan dari saluran pembuangan kotoran. 

Secara keseluruhan, tim penyelam menemukan itu adalah kondisi yang sangat mengejutkan dan menakjubkan untuk dipandang. 

Penemuan sungai dalam laut ini ditemukan oleh Mr.Costeau. Fenomena ini dapat terlihat pada gambar dibawah ini :










































































































































































Begitulah kebesaran Allah.

Kapan terakhir kita Sholat

Beberapa pertanyaan dan pernyataan untuk dijawab masing-masing...

Kapan terakhir kita Sholat? Dzuhur tadi? Subuh? Isya? kemarin? dua hari yang lalu? Sholat Jumat minggu lalu? sebulan yang lalu? atau malah Sholat Idul Adha yang lalu? atau malah terakhir pas kita masih sekolah.....
Sadarkah kita kalo Sholat itu Tiang agama, ibarat bangunan, sholat adalah penopangnya. kalo ga ada tiang maka bangunan ambruk walau sebagus apapun pondasi, atap dsb. walau gentengnya terbuat dari emas, kalo tiangnya rapuh, ambruukk..

Sama halnya dengan Sholat, kalo kita ga Sholat semua amal jadi percuma, sebanyak apapun kita bersedekah, selama apapun kita berpuasa ga ada artinya sama sekali. umumnya masih banyak saudara-saudara kita pas bulan Ramadhan berpuasa penuh satu bulan, tapi ga Sholat, artinya puasanya ga berarti, sebulan cuma berlapar-lapar dan haus doang, ga dapat berkah berbuka puasa.....

Ada yang pernah menyadari ga, Insya Allah nanti ketika kita akan dihisab di akhirat Sholat adalah amalan yang pertama dilihat, artinya kalo Sholatnya baik, maka amalan yang lain ikut tertular baik walaupun sedikit. Sebaliknya kalo Sholat kita jelek, sering meninggalkan, maka amalan lain tidak akan dilihat walau banyak... Jadi pointnya adalah Sholat pembuka segala amal kita.....

Jadi tunggu apalagi??? mulailah berhitung dari sekarang... jangan tinggalkan Sholat wajib.. sekalipun!!! !!!!!! walaupun uzur. kalo ga bisa berdiri bisa duduk, ga bisa duduk bisa berbaring, ga bisa bergerak dengan berkedip mata, yang penting niatkan hati untuk Sholat. selama kita masih sadarkan diri, selalu tunaikan Sholat...... ..

Setelah kita mulai bisa rutin Sholat Fardhu lima waktu dalam 24 jam.. mulailah memperbaiki bentuk Sholat kita, jangan asal2an. buatlah Sholat kita anil fahsa i wal munkar (Sholat menjauhkan perbuatan keji dan mungkar), kalo kita masih berbuat keji dan mungkar maka dapat dipastikan bahwa sholat kita tidak ada nilainya. Buatlah Sholat kita menjadi ibadah yang baik.. Sholatlah di awal waktu, jangan mengulur-ulur di akhir waktu, begitu Adzan berkumandang langsung segera ambil air Wudhu dan bersholat, tinggalkan urusan duniawiii.Yang dijalan coba lah berhenti, cari Mesjid atau Mushola terdekat....

Setelah kita bisa memperbaiki sholat kita, mulailah ikuti anjuran sunnah Rasulullah SAW. khususnya bagi laki-laki, mulailah SHolat secara berjamaah di awal waktu. masih banyak yang mengira bahwa berjamaah itu hanya sunnah biasa, boleh ditinggalkan bagi laki-laki dan hanya masalah keutamaan 27 derajatnya saja.. salah... Sholat berjamaah bagi laki-laki Muslim adalah SUnnah Muakad, hanya boleh ditinggalkan bila uzur, apa uzurnya: sakit atau takut... jadi tidak ada alasan untuk tidak Sholat berjamaah. masih banyak kaum wanita bersantai ketika melihat suaminya tidak melakukan Sholat berjamaah di Masjid atau Mushola, sayang sekali.. ada beberapa riwayat mengatakan bahwa siapapun laki-laki muslim yang tidak uzur lalu tidak Sholat berjamah, maka tidak ada nilai pahala sholatnya, hanya menggugurkan kewajiban saja.... mulailah kita latih diri kita dari sejkarang untuk Sholat Fardhu berjamaah di awal waktu....

Jadi teman temin, kalau ingin hidup kita berkah.. amal kita dinilai baik oleh Allah kelak di hari kiamat... amalan kita yang lain menjadi ikut baik... Jangan tinggalkan Sholat Fardhu karena meninggalkan Sholat Fardhu adalah dosa, mendekatkan kepada kekufuran... . setiap suara adzan menggema cepatlah ambil air wudhu, lalu berjamaah sholat dengan siapa saja.....

Rasulullah SAW bersabda: "Siapa yang tidak mengikuti sunnahku, maka ia bukan bagian dari umatku"

Semoga dapat dimengerti dan dimanfaatkan...

Mitos Kartini dan Rekayasa Sejarah

Ada yang menarik pada Jurnal Islamia (INSISTS-Republika) edisi 9 April 2009 lalu. Dari empat halaman jurnal berbentuk koran yang membahas tema utama tentang Kesetaraan Gender, ada tulisan sejarawan Persis Tiar Anwar Bahtiar tentang Kartini. Judulnya: “Mengapa Harus Kartini?”

Sejarawan yang menamatkan magister bidang sejarah di Universitas Indonesia ini mempertanyakan: Mengapa Harus Kartini? Mengapa setiap 21 April bangsa Indonesia memperingati Hari Kartini? Apakah tidak ada wanita Indonesia lain yang lebih layak ditokohkan dan diteladani dibandingkan Kartini?

Menyongsong tanggal 21 April 2009 kali ini, sangatlah relevan untuk membaca dan merenungkan artikel yang ditulis oleh Tiar Anwar Bahtiar tersebut. Tentu saja, pertanyaan bernada gugatan seperti itu bukan pertama kali dilontarkan sejarawan. Pada tahun 1970-an, di saat kuat-kuatnya pemerintahan Orde Baru, guru besar Universitas Indonesia, Prof. Dr. Harsja W. Bachtiar pernah menggugat masalah ini. Ia mengkritik 'pengkultusan' R.A. Kartini sebagai pahlawan nasional Indonesia.

Dalam buku Satu Abad Kartini (1879-1979), (Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 1990, cetakan ke-4), Harsja W. Bahtiar menulis sebuah artikel berjudul “Kartini dan Peranan Wanita dalam Masyarakat Kita”. Tulisan ini bernada gugatan terhadap penokohan Kartini. “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut,” tulis Harsja W. Bachtiar, yang menamatkan doktor sosiologinya di Harvard University.

Harsja juga menggugat dengan halus, mengapa harus Kartini yang dijadikan sebagai simbol kemajuan wanita Indonesia. Ia menunjuk dua sosok wanita yang hebat dalam sejarah Indonesia. Pertama, Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan. Anehnya, tulis Harsja, dua wanita itu tidak masuk dalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.

Padahal, papar Harsja, kehebatan dua wanita itu sangat luar biasa. Sultanah Safiatudin dikenal sebagai sosok yang sangat pintar dan aktif mengembangkan ilmu pengatetahuan. Selain bahasa Aceh dan Melayu, dia menguasai bahasa Arab, Persia, Spanyol dan Urdu. Di masa pemerintahannya, ilmu dan kesusastraan berkembang pesat. Ketika itulah lahir karya-karya besar dari Nuruddin ar-Raniry, Hamzah Fansuri, dan Abdur Rauf. Ia juga berhasil menampik usaha-usaha Belanda untuk menempatkan diri di daerah Aceh. VOC pun tidak berhasil memperoleh monopoli atas perdagangan timah dan komoditi lainnya. Sultanah memerintah Aceh cukup lama, yaitu 1644-1675. Ia dikenal sangat memajukan pendidikan, baik untuk pria maupun untuk wanita. 

Tokoh wanita kedua yang disebut Harsja Bachriar adalah Siti Aisyah We Tenriolle. Wanita ini bukan hanya dikenal ahli dalam pemerintahan, tetapi juga mahir dalam kesusastraan. B.F. Matthes, orang Belanda yang ahli sejarah Sulawesi Selatan, mengaku mendapat manfaat besar dari sebuah epos La-Galigo, yang mencakup lebih dari 7.000 halaman folio. Ikhtisar epos besar itu dibuat sendiri oleh We Tenriolle. Pada tahun 1908, wanita ini mendirikan sekolah pertama di Tanette, tempat pendidikan modern pertama yang dibuka baik untuk anak-anak pria maupun untuk wanita. 

Penelusuran Prof. Harsja W. Bachtiar terhadap penokohan Kartini akhirnya menemukan kenyataan, bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia. Mula-mula Kartini bergaul dengan Asisten-Residen Ovink suami istri. Adalah Cristiaan Snouck Hurgronje, penasehat pemerintah Hindia Belanda, yang mendorong J.H. Abendanon, Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Harsja menulis tentang kisah ini: “Abendanon mengunjungi mereka dan kemudian menjadi semacam sponsor bagi Kartini. Kartini berkenalan dengan Hilda de Booy-Boissevain, istri ajudan Gubernur Jendral, pada suatu resepsi di Istana Bogor, suatu pertemuan yang sangat mengesankan kedua belah pihak.” 

Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur “Haluan Etika” C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia.

Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).

Dua tahun setelah penerbitan buku Kartini, Hilda de Booy-Boissevain mengadakan prakarsa pengumpulan dana yang memungkinkan pembiayaan sejumlah sekolah di Jawa Tengah. Tanggal 27 Juni 1913, didirikan Komite Kartini Fonds, yang diketuai C.Th. van Deventer. Usaha pengumpulan dana ini lebih memperkenalkan nama Kartini, serta ide-idenya pada orang-orang di Belanda. Harsja Bachtriar kemudian mencatat: “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakap an maupun tindakan-tindakan mereka.”

Karena itulah, simpul guru besar UI tersebut: “Kita mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.”

Harsja mengimbau agar informasi tentang wanita-wanita Indonesia yang hebat-hebat dibuka seluas-luasnya, sehingga menjadi pengetahuan suri tauladan banyak orang. Ia secara halus berusaha meruntuhkan mitos Kartini: “Dan, bilamana ternyata bahwa dalam berbagai hal wanita-wanita ini lebih mulia, lebih berjasa daripada R.A. Kartini, kita harus berbangga bahwa wanita-wanita kita lebih hebat daripada dikira sebelumnya, tanpa memperkecil penghargaan kita pada RA Kartini.”

Dalam artikelnya di Jurnal Islamia (INSISTS-Republika, 9/4/2009), Tiar Anwar Bahtiar juga menyebut sejumlah sosok wanita yang sangat layak dimunculkan, seperti Dewi Sartika di Bandung dan Rohana Kudus di Padang (kemudian pindah ke Medan). Dua wanita ini pikiran-pikirannya memang tidak sengaja dipublikasikan. Tapi yang mereka lakukan lebih dari yang dilakukan Kartini. Berikut ini paparan tentang dua sosok wanita itu, sebagaimana dikutip dari artikel Tiar Bahtiar.

Dewi Sartika (1884-1947) bukan hanya berwacana tentang pendidikan kaum wanita. Ia bahkan berhasil mendirikan sekolah yang belakangan dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Rohana Kudus (1884-1972) melakukan hal yang sama di kampung halamannya. Selain mendirikan Sekolah Kerajinan Amal Setia (1911) dan Rohana School (1916), Rohana Kudus bahkan menjadi jurnalis sejak di Koto Gadang sampai saat ia mengungsi ke Medan. Ia tercatat sebagai jurnalis wanita pertama di negeri ini.

Kalau Kartini hanya menyampaikan ide-idenya dalam surat, mereka sudah lebih jauh melangkah: mewujudkan ide-ide dalam tindakan nyata. Jika Kartini dikenalkan oleh Abendanon yang berinisiatif menerbitkan surat-suratnya, Rohana menyebarkan idenya secara langsung melalui koran-koran yang ia terbitkan sendiri sejak dari Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan).

Bahkan kalau melirik kisah-kisah Cut Nyak Dien, Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah dari Aceh, klaim-klaim keterbelakangan kaum wanita di negeri pada masa Kartini hidup ini harus segera digugurkan. Mereka adalah wanita-wanita hebat yang turut berjuang mempertahankan kemerdekaan Aceh dari serangan Belanda. Tengku Fakinah, selain ikut berperang juga adalah seorang ulama-wanita. Di Aceh, kisah wanita ikut berperang atau menjadi pemimpin pasukan perang bukan sesuatu yang aneh. Bahkan jauh-jauh hari sebelum era Cut Nyak Dien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh sudah memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.

Jadi, ada baiknya bangsa Indonesia bisa berpikir lebih jernih: Mengapa Kartini? Mengapa bukan Rohana Kudus? Mengapa bukan Cut Nyak Dien? Mengapa Abendanon memilih Kartini? Dan mengapa kemudian bangsa Indonesia juga mengikuti kebijakan itu? Cut Nyak Dien tidak pernah mau tunduk kepada Belanda. Ia tidak pernah menyerah dan berhenti menentang penjajahan Belanda atas negeri ini.

Meskipun aktif berkiprah di tengah masyarakat, Rohana Kudus juga memiliki visi keislaman yang tegas. “Perputaran zaman tidak akan pernah membuat wanita menyamai laki-laki. Wanita tetaplah wanita dengan segala kemampuan dan kewajibannya. Yang harus berubah adalah wanita harus mendapat pendidikan dan perlakukan yang lebih baik. Wanita harus sehat jasmani dan rohani, berakhlak dan berbudi pekerti luhur, taat beribadah yang kesemuanya hanya akan terpenuhi dengan mempunyai ilmu pengetahuan,” begitu kata Rohana Kudus.

Seperti diungkapkan oleh Prof. Harsja W. Bachtiar dan Tiar Anwar Bahtiar, penokohan Kartini tidak terlepas dari peran Belanda. Harsja W. Bachtiar bahkan menyinggung nama Snouck Hurgronje dalam rangkaian penokohan Kartini oleh Abendanon. Padahal, Snouck adalah seorang orientalis Belanda yang memiliki kebijakan sistematis untuk meminggirkan Islam dari bumi Nusantara. Pakar sejarah Melayu, Prof. Naquib al-Attas sudah lama mengingatkan adanya upaya yang sistematis dari orientalis Belanda untuk memperkecil peran Islam dalam sejarah Kepulauan Nusantara.

Dalam bukunya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu ((Bandung: Mizan, 1990, cet. Ke-4), Prof. Naquib al-Attas menulis tentang masalah ini:

“Kecenderungan ke arah memperkecil peranan Islam dalam sejarah Kepulauan ini, sudah nyata pula, misalnya dalam tulisan-tulisan Snouck Hurgronje pada akhir abad yang lalu. Kemudian hampir semua sarjana-sarjana yang menulis selepas Hurgronje telah terpengaruh kesan pemikirannya yang meluas dan mendalam di kalangan mereka, sehingga tidak mengherankan sekiranya pengaruh itu masih berlaku sampai dewasa ini.”

Apa hubungan Kartini dengan Snouck Hurgronje? Dalam sejumlah suratnya kepada Ny. Abendanon, Kartini memang beberapa kali menyebut nama Snouck. Tampaknya, Kartini memandang orientalis-kolonial is Balanda itu sebagai orang hebat yang sangat pakar dalam soal Islam. Dalam suratnya kepada Ny. Abendanon tertanggal 18 Februari 1902, Kartini menulis:

”Salam, Bidadariku yang manis dan baik!... Masih ada lagi suatu permintaan penting yang hendak saya ajukan kepada Nyonya. Apabila Nyonya bertemu dengan teman Nyonya Dr. Snouck Hurgronje, sudikah Nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: ”Apakah dalam agama Islam juga ada hukum akil balig seperti yang terdapat dalam undang-undang bangsa Barat?” Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kewajiban perempuan Islam serta anak perempuannya.” (Lihat, buku Kartini: Surat-surat kepada Ny. R.M. Abendanon-Mandri dan Suaminya, (penerjemah: Sulastin Sutrisno), (Jakarta: Penerbit Djambatan, 2000), hal. 234-235). 

Melalui bukunya, Snouck Hurgronje en Islam (Diindonesiakan oleh Girimukti Pusaka, dengan judul Snouck Hurgronje dan Islam, tahun 1989), P.SJ. Van Koningsveld memaparkan sosok dan kiprah Snouck Hurgronje dalam upaya membantu penjajah Belanda untuk ’menaklukkan Islam’. Mengikuti jejak orientalis Yahudi, Ignaz Goldziher, yang menjadi murid para Syaikh al-Azhar Kairo, Snouck sampai merasa perlu untuk menyatakan diri sebagai seorang muslim (1885) dan mengganti nama menjadi Abdul Ghaffar. Dengan itu dia bisa diterima menjadi murid para ulama Mekkah. Posisi dan pengalaman ini nantinya memudahkan langkah Snouck dalam menembus daerah-daerah Muslim di berbagai wilayah di Indonesia. 

Menurut Van Koningsveld, pemerintah kolonial mengerti benar sepak terjang Snouck dalam ’penyamarannya’ sebagai Muslim. Snouck dianggap oleh banyak kaum Muslim di Nusantara ini sebagai ’ulama’. Bahkan ada yang menyebutnya sebagai ”Mufti Hindia Belanda’. Juga ada yang memanggilnya ”Syaikhul Islam Jawa”. Padahal, Snouck sendiri menulis tentang Islam: ”Sesungguhnya agama ini meskipun cocok untuk membiasakan ketertiban kepada orang-orang biadab, tetapi tidak dapat berdamai dengan peradaban modern, kecuali dengan suatu perubahan radikal, namun tidak sesuatu pun memberi kita hak untuk mengharapkannya.” (hal. 116).

Snouck Hurgronje (lahir: 1857) adalah adviseur pada Kantoor voor Inlandsche zaken pada periode 1899-1906. Kantor inilah yang bertugas memberikan nasehat kepada pemerintah kolonial dalam masalah pribumi. Dalam bukunya, Politik Islam Hindia Belanda, (Jakarta: LP3ES, 1985), Dr. Aqib Suminto mengupas panjang lebar pemikiran dan nasehat-nasehat Snouck Hurgronje kepada pemerintah kolonial Belanda. Salah satu strateginya, adalah melakukan ‘pembaratan’ kaum elite pribumi melalui dunia pendidikan, sehingga mereka jauh dari Islam. Menurut Snouck, lapisan pribumi yang berkebudayaan lebih tinggi relatif jauh dari pengaruh Islam. Sedangkan pengaruh Barat yang mereka miliki akan mempermudah mempertemukannya dengan pemerintahan Eropa. Snouck optimis, rakyat banyak akan mengikuti jejak pemimpin tradisional mereka. Menurutnya, Islam Indonesia akan mengalami kekalahan akhir melalui asosiasi pemeluk agama ini ke dalam kebudayaan Belanda. Dalam perlombaan bersaing melawan Islam bisa dipastikan bahwa asosiasi kebudayaan yang ditopang oleh pendidikan Barat akan keluar sebagai pemenangnya. Apalagi, jika didukung oleh kristenisasi dan pemanfaatan adat. (hal. 43).

Aqib Suminto mengupas beberapa strategi Snouck Hurgronje dalam menaklukkan Islam di Indonesia: “Terhadap daerah yang Islamnya kuat semacam Aceh misalnya, Snouck Hurgronje tidak merestui dilancarkan kristenisasi. Untuk menghadapi Islam ia cenderung memilih jalan halus, yaitu dengan menyalurkan semangat mereka kearah yang menjauhi agamanya (Islam) melalui asosiasi kebudayaan.” (hal. 24).

Itulah strategi dan taktik penjajah untuk menaklukkan Islam. Kita melihat, strategi dan taktik itu pula yang sekarang masih banyak digunakan untuk ‘menaklukkan’ Islam. Bahkan, jika kita cermati, strategi itu kini semakin canggih dilakukan. Kader-kader Snouck dari kalangan ‘pribumi Muslim’ sudah berjubel. Biasanya, berawal dari perasaan ‘minder’ sebagai Muslim dan silau dengan peradaban Barat, banyak ‘anak didik Snouck’ – langsung atau pun tidak – yang sibuk menyeret Islam ke bawah orbit peradaban Barat. Tentu, sangat ironis, jika ada yang tidak sadar, bahwa yang mereka lakukan adalah merusak Islam, dan pada saat yang sama tetap merasa telah berbuat kebaikan.

Source: http://www.insistnet.com

Mengenali STROKE

Pada suatu pesta, seorang teman tiba-tiba tersandung dan jatuh. Ia meyakinkan setiap orang, bahwa dia baik-baik saja dan tersandung batu saja karena sepatu yang baru. (padahal mereka telah menawarkan ambulans).

Mereka membersihkan tumpahan dan memberikan piring yang baru-sementara ia kelihatan agak terkejut. Ingrid (kita sebut saja) terus bersenang-senang sepajang malam. 

Beberapa waktu berselang, suami Ingrid menelpon bahwa isterinya dibawa ke rumah sakit (jam 6.00 pagi, Ingrid meninggal.).

Sebenarnya Ingrid sedang menderita stroke selama pesta. Kalau saja diantara mereka ada yang mengetahui bagaimana mengenali stroke, kemungkinan Ingrid masih bisa hidup sampai hari ini. 

Beberapa orang seperti ini tidak meninggal, tetapi mereka berakhir dengan cacat, tidak berdaya. Hanya dibutuhkan beberapa menit untuk membaca ini.

MENGENALI STROKE :

Seorang Neurolog (Ahli syaraf) menyatakan bahwa jika ia bisa bertemu dengan seorang penderita stroke dalam 3 jam pertama serangan, maka keadaan bisa berubah total sama sekali. Ia mengatakan yang penting adalah mengenali gejala, mendiagnosa, dan segera membawa pasien untuk pengobatan ahli dengan segera dan ini mendesak!! Jangan lewat dari tiga jam karena kalau tidak, akan cacad permanen. 


MENGENALI STROKE :

Ingat '3' langkah , STR . Baca dan pelajari! 

Kadang-kadang gejala stroke sangat sukar untuk dikenali. Sayangnya, ketidaktahuan membawa bencana.
Penderita stroke dapat mengalami kerusakan otak yang berat jika orang sekitar gagal untuk mengenali gejala-gejala stroke.
Sekarang para dokter menyatakan seorang terdekat dapat mengenali stroke dengan menayakan tiga pertanayaan sederhana : 
1. S * Minta individu untuk tersenyum/Ask the individual to SMILE (TERSENYUM). Kalau pipi pengot maka ada kelumpuhan saraf. Waspadalah !! 
2. T * TALK (BICARA). Minta orang tersebut untuk TALK (BICARA ) KALIMAT SINGKAT (mis.: 'It is sunny today, hari ini cerah, atau apa saja). Kalau omongannya pelo ini gejala stroke.
3. R * Minta dia untuk RAISE BOTH ARMS (MENGANGKAT KEDUA LENGAN) . Kalau tidak bisa mengangkat artinya ada kelumpuhan akibat stroke. Waspada dan jangan terlambat panggil ambulans.

Jika terdapat salah satu dari gangguan untuk melakukan STR, segera panggil ambulans dan ceritakan keadaan ini kepada petugas.

NOTE : "Tanda" lain dari stroke adalah 
1. Minta orang tersebut "menjulurkan" lidahnya. 
2. Jika lidah "bengkok", menyimpang kesatu arah ini juga merupakan tanda dari suatu stroke.




Cerita Lucu 1

Tentang Minal Aidin Wal Faizin

Di tengah suasana lebaran kemarin, ada cerita lucu yang saya alami. Kemarin di tempat saya tinggal (Nansen Village), para keluaga muslim dari fbeberapa negara (rata-rata dari negara2 Arab) mengadakan acara kumpul-kumpul merayakan Idul Fitri secara bersama-sama, semacam acara  Halal Bi Halal.

Di saat ngobrol tentang suasana lebaran di negara masing-masing, saya dengan percaya diri bercerita bahwa biasanya muslim Indonesia menggunakan bahasa Arab: Minal Aidin Wal Faizin setiap ketemu sesama muslim atau menulisnya di kartu lebaran atau di spanduk2. Teman dari negara2 Arab langsung merespon: I am sorry, what did you say? Could you say again?

Setelah saya ulang beberapa kali, dan mencoba mengejanya dalam huruf Arab, mereka semua tertawa dan menyatakan bahwa: mereka baru mendengar kalimat seperti ini, dan enggak tahu artinya, dan mereka menyatakan sepertinya ini bukan berasal dari bahasa Arab. He,...he, berhubung saya memang kurang paham bahasa Arab, kecuali sekedar membaca, saya cuman bisa senyam senyum.

Barusan saya penasaran cari2 informasi di Mbah Geogle, dapat beberapa artikel, salah satunya ada dalam link  dibawah ini: